Memperbaiki Kesuburan Tanah

24 07 2012

Produktivitas lahan HGU Jengkol dan Sumber Lumbu dari tahun ke tahun semakin menurun.  Realisasi pada tahun 2011 rata-rata 67 ton tebu/ha. Produksi HGU pada sebelum tahun 2000 dapat mencapai 80-90 ton tebu/ha.

Produksi tebu di Sumatera seperti PT. Gunung Madu Plantation pada tahun 2011 mampu mencapai rata-rata 75.5 ton tebu/ha dan PT. Pemuka Sakti Manis Indah 76.8 ton tebu/ha. Kalau melihat jenis tanah yang ada di Sumatera sebenarnya termasuk ke dalam tanah-tanah marjinal seperti Latosol dan Podsolik yang umumnya mempunyai tingkat kesuburan dan bahan organik yang sangat rendah pada awalnya.  Namun dengan komitmen mereka mampu meningkatkan daya dukung tanah melalui pengelolaan kesuburan tanah yang tepat.

Permasalahan utama di lahan HGU Jengkol dan Sumber Lumbu ini adalah kesuburan tanah yang sudah pada tingkat kritis, dengan kandungan bahan organik di bawah 2 %.  Pada kondisi ini mikroorganisme tanah sangat kecil dapat bertahan hidup sehingga aktivitas biologi tanah sangat minim, padahal sangat banyak mikroorganisme tanah yang dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah dan menambat unsur hara dari udara.

Pada tahun 90-an di lahan HGU ini pernah dilakukan pemberian blotong dan abu dengan dosis 50-100 ton/ha namun tidak berjalan dengan konsisten sehingga tidak kelihatan hasilnya.

Kemudian mulai tahun 2004 dilakukan pemberian kompos (dari blotong dan abu) dengan dosis 3 ton/ha.  Banyak keluhan terhadap pemberian kompos ini karena tidak memperlihatkan pengaruh yang signifikan terhadap produksi pada masa tanam tersebut sehingga banyak yang merasa apriori terhadap penggunaan kompos tahun berikutnya. Penjelasan terhadap pengaruh yang tidak signifikan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Pemberian 3 ton kompos yang mengandung ± 15 % C-organik setara dengan 450 kg C-organik dalam 1 ha.  Bila lahan HGU dengan jumlah leng sebanyak 565 (@ 16 meter) maka tiang leng hanya mendapat 5.3 kg kompos atau setara dengan 0.8 kg C-organik.
  2. Tanah yang ideal mengandung 5 % bahan organik, setara dengan 58.000 kg C-organik dalam 1 ha  atau 103 kg C-organik setiap leng (@ 16 meter).  Jumlah ini sama dengan pemberian 390.000 kg kompos. Artinya pemberian kompos sejumlah 3 ton/ha masih jauh dari kebutuhan.
  3. Kekurangan 3 % bahan organik tanah setara dengan 35.000 kg C-organik, setara 235.000 kg kompos dalam 1 ha.

Kita dapat menganalisis keberhasilan PT. Gunung Madu Plantation melalui website http://www.gunungmadu.co.id/index.php?modul=artikel&id=utama&kodebrt=olahtanah&colvis=false. Gunung Madu menjelaskan tentang bagaimana mereka mengelola tanah yang sudah mengalami degradasi menjadi tanah yang subur dengan tepat dan bijaksana.

“Di dalam mengolah tanah Gunung Madu berpegang pada konsep pokok pengelolaan tanah yaitu :

  1. Memperbaiki kemampuan tanah menyimpan dan menyediakan hara,
  2. Memperbesar volume perakaran,
  3. Pelestarian (konservasi). Sudah merupakan komitmen bersama bahwa sebagai upaya menambah bahan organik dalam tanah, maka setiap tahun setidaknya ada 3500 ha kebun harus diaplikasi limbah padat pabrik yang berupa blotong, bagasse, dan abu (BBA) serta melakukan rotasi dengan tanaman benguk (Mucuna sp). BBA dapat diaplikasikan secara langsung setelah dilakukan pencampuran di terminal BBA dengan perbandingan tertentu atau dapat juga diaplikasikan setelah melalui proses ‘pengomposan’. Dosis BBA yang tidak dikomposkan 80 ton/ha sedangkan yang sudah menjadi kompos 40 ton/ha. Aplikasi BBA dilakukan setelah olah tanah I”.

Bila kita hitung maka pemberian dengan dosis kompos 40 ton/ha setara dengan 6.000 kg C-organik, sehingga untuk mencapai bahan organik tanah menjadi 5 %, mereka butuh waktu kurang lebih 10 tahun dengan mengaplikasikan pada lahan yang sama secara terus-menerus. Hal ini juga setara dengan 80 ton BBA bila diaplikasikan langsung tanpa proses pengomposan.

Bagaimana cara kita merealisasikan contoh nyata dari Gunung Madu ini untuk diaplikasikan di HGU Jengkol dan Sumber Lumbu ?

Yang dibutuhkan adalah :

  1. Mau menyadari betapa sudah parahnya kerusakan tanah di HGU Jengkol dan Sumber Lumbu
  2. Meyakini peran bahan organik dapat meningkatkan kesuburan tanah.  Fungsi bahan organik pada tanah identik dengan fungsi jantung pada manusia.
  3. Komitmen dari semua pihak bahwa untuk memperbaiki kerusakan tanah ini tidak bisa diperoleh dalam jangka pendek, tapi butuh waktu yang panjang minimal 10 tahun.
  4. Idealnya untuk mencapai 5 % bahan organik tanah harus diaplikasikan  blotong dan abu dengan dosis 40-80 ton/ha atau 20-40 ton kompos/ha  setiap tahunnya.  Ada  ± 1.000 ha lahan di masing-masing HGU yang ditanami setiap tahunnya, yang berarti tiap HGU butuh 20.000 – 40.000 ton kompos.
  5. Penanaman green manure seperti mucuna atau kacang tunggak dapat diterapkan kembali. Perlu dibuat aturan-aturan terhadap penanaman dan pemeliharaannya untuk menghindari pencurian yang sering terjadi.
  6. Membuat kebijakan berupa gerakan perbaikan tanah HGU Jengkol dan Sumber Lumbu dengan membentuk Tim khusus yang dapat mendisain program jangka pendek dan jangka panjang.

Jembatan Merah, Juli 2012

Advertisements

Actions

Information

8 responses

24 07 2012
arifin

Terima kasih bu

25 07 2012
yassarlina

Sama2, smg bermanfaat

24 07 2012
eadewi

Terimakasih Bu Lina sangat bermanfaat, sangat aplikatif akan kami terapkan di KPB Ketandan

25 07 2012
yassarlina

Tks kembali, smg bermanfaat juga untuk lahan tembakau PTPN X

24 07 2012
hernowo

Info yg sangat menarik bagi pemerhati Kesuburan Tanah….

25 07 2012
yassarlina

sesama orang tanah …. :))
tks sdh berkunjung, slmt bekerja

1 08 2012
gunawan

Kita harus berani Investasi On Farm utk meningkatkan kesuburan tanah, lebih afdol dikawal Puslit dan Perguruan Tinggi, pakarnya dong…..

3 08 2012
yassarlina

setuju pak, tim hgu sdh dibentuk dg ketua p syahrial koto. Tks sdh berkunjung pak adm. Sukses untuk pg tulangan :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Odyssey

The More I Wander, The More I Know

Every step that I take. . .

istiwahyuti

A fine WordPress.com site

Pusat Penelitian Gula

Every step that I take. . .

Research and Development of Tobacco Jember

Creative, fast and precise to provide solutions

RESEARCH AND DEVELOPMENT OF TOBACCO KLATEN

Responsive, Precise and Innovative

No Boundaries

Sharing the best for taking the best . .

Every step that I take. . .

Keep Goin'

at the end, life is just a gag

Long Journey

Information and Communication for Social Capital Development

%d bloggers like this: