Kasih Sayang

7 07 2012

Perjalanan dinas ke Jember kali ini kutempuh dengan kereta api ekonomi Tawang Alun dari Malang, pertama kalinya aku naik kereta ke Jember. Ternyata cukup nyaman juga walau tanpa AC. Aku duduk sebangku dengan seorang pria muda yang cukup sopan. Di depanku, kursi kereta berhadap-hadapan, duduk sepasang suami istri muda dengan anak laki-lakinya yang berumur lebih kurang 3 tahun, keluarga inilah yang menarik perhatianku sepanjang perjalanan.
Suami istri itu baru berumur sekitar 20-an tahun, kelihatannya berasal dari desa. Yang menarik perhatianku adalah cara suami istri ini memperlakukan anaknya, selalu bersikap kasar, tidak ada kata-kata atau sikap yang lemah lembut. Seperti yang terjadi pada saat si anak ingin membuka bungkus plastik roti karena ingin memakannya, terlihat dia dengan susah payah membukanya. tiba-tiba si ibu merampas kue itu dengan kasar, membukanya dan memberikannya kembali kepada si anak, juga dengan cara yang kasar. Tidak jarang si anak dipukul dan dibentak karena si anak dianggap terlalu banyak bergerak. Tidak pernah terdengar kata-kata yang lembut dari mulut si ibu atau pelukan dan ciuman sayang pada si anak.
Adegan berikutnya adalah pertengkaran suami istri itu, gara-garanya sepele, si suami merampas handphone si istri karena dianggap terlalu lama berbicara lewat hp padahal si istri sedang berbicara dengan saudaranya dan meminta untuk menjemput mereka di stasiun Banyuwangi. Kejadian ini membuat si istri marah dan memaki suaminya, sasaran akhirnya adalah si anak yang tambah dikasari. Entah mengapa kali ini aku tidak punya keberanian untuk menyapa atau sekedar bertanya kepada mereka. Adegan demi adegan kusaksikan, membuat aku tercenung, akan jadi seperti apa perilaku si anak kelak karena dia sudah terbiasa diperlakukan dengan cara-cara yang kasar. Kenapa mereka tidak bisa berlaku lembut dan santun kepada anaknya, dan juga kepada pasangan mereka masing-masing. Si anak akan mencontoh perilaku orang tuanya, menjadi pribadi yang kasar.
Terlepas dari latar belakang keluarga itu yang mungkin kurang berpendidikan, kurang mampu, atau menikah dalam usia muda, atau yang lainnya, aku hanya berkeyakinan bahwa setiap manusia sudah diberi karunia naluri kasih sayang.
Aku teringat suatu hadist, diriwayatkan dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : Sesungguhnya Allah Maha Belas Kasih, Dia mencintai sikap belas kasih/lemah lembut. Pada sikap belas kasih itu Allah memberikan sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan sikap lainnya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada hadist lain yang diriwayatkan oleh Jarir r.a, Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa dihindarkan dari sifat kasih sayang berarti dia dijauhkan dari kebaikan (HR. Muslim).

Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, penuhi hati kami dengan kasih sayang, lembutkan hati kami, seperti yang diajarkan oleh junjungan kami Rasulullah SAW.

Tawang Alun, Juni 2012

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Odyssey

The More I Wander, The More I Know

Every step that I take. . .

istiwahyuti

A fine WordPress.com site

Pusat Penelitian Gula

Every step that I take. . .

Research and Development of Tobacco Jember

Creative, fast and precise to provide solutions

RESEARCH AND DEVELOPMENT OF TOBACCO KLATEN

Responsive, Precise and Innovative

No Boundaries

Sharing the best for taking the best . .

Every step that I take. . .

Keep Goin'

at the end, life is just a gag

Long Journey

Information and Communication for Social Capital Development

%d bloggers like this: